Masing-masing perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD)
Kaltara, dukungan 4 partai politik tersebut bahkan melebihi persyaratan
25 persen atau 9 kursi dari 35 kursi di DPRD. Masing-masing, Hanura
menyumbang 4 kursi, PKB 2 kursi, PKPI 1 kursi dan Nasdem 2 kursi.
Di sela-sela kesibukannya, ternyata masih menyempatkan diri untuk menerima redaksi www.newstara.com yang berkunjung di kediamannya di jalan Mulawarman Kota Tarakan-Provinsi Kalimantan Utara. Redaksi pun menyempatkan diri melakukan wawancara menyoal konsep kerja yang dimiliki dr. Jusuf SK mulai dari konsep kelistrikan, energi baru terbarukan, hulu dan hilir minyak serta gas untuk rumah tangga.
Ini dia petikan wawancara dari Reporter kami Yoko handani dengan dr Jusuf SK:
Bapak Yusuf, kita tahu bahwa wilayah Provinsi Kalimantan Utara
yang terbagi 5 kabupaten dan kota, berbatasan langsung dengan Malaysia.
Namun, hingga kini Kaltara masih bermasalah dengan ketersedian listrik
yang tidak memadai. Konsep matang apa yang sekiranya bisa bapak lakukan
nanti, untuk mengakhiri krisis listrik di Kaltara?
Mohon maaf sekali lagi saya belum jadi Gubernur, baru mencalonkan diri.
Namun, jika masyarakat mempercayakan saya. Memang ada beberapa konsep
menarik untuk menerangi wilayah perbatasan ini, tapi harus
dikombinasikan dengan pemerintah pusat serta disesuaikan dengan
kebutuhan masing-masing daerah.
Misalkan kita lihat daerah Kabupaten Malinau dengan alam yang tersedia
dan melimpah, dan terdapat air terjun dengan tingkat daerah aliran
sungai (DAS) dan kederasan tinggi sampai rendah semua tersedia. Kita
bisa memanfaatkan sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA), lalu
membangun jaringan listrik dari pembangkit ke PLN dan dialirkan melalui
rumah-rumah tangga serta industri.
Begitupula dengan wilayah Krayan dan wilayah pelosok lainnya di Kaltara,
karena disana kita bisa manfaatkan sumber pembangkit mini hydro. Dan
sistem pengelolaanya yang diatur dengan cara koperasi, perusda atau
apalah namanya yang penting dapat dimanfaatkan untuk masyarakat
perbatasan.
Untuk wilayah perkotaan di Kaltara bagaimana, karena masih terjadi byar pet dimana-mana?
Iya... jadi memang wilayah perkotaan ini kita lihat antara jumlah
sambungan listrik, baik itu rumah tangga dan industri yang memang cukup
besar kebutuhannya, sementara ketersedian listrik dari PLN kurang
memadai. Mau tidak mau dan suka tidak suka memang pembangkit listrik
baru harus ada. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti menggunakan
gas, batubara sebagai bahan bakar utama pembangkit.
Untuk pembangkit listrik berbahan bakar gas, maka bisa dimanfaatkan gas
buang (Flue Gas) yang tidak terpakai di furnace keluar cerobong.
Walaupun komposisi gas yang keluar biasanya lebih banyak nitrogen, namun
masih bisa dimanfaatkan. Nah, kalau anda ke kampung empat Tarakan, akan
melihat api menyala-nyala dari gas buang. Kalau itu kita bisa
manfaatkan tentu bisa digunakan untuk pembangkit, itu salah satu
contohnya.
Namun harus dipikirkan bagaimana cara menampung gas sebelum dialirkan ke
pembangkit-pembangkit agar tetap stabil pasokan gasnya. Selama ini, gas
yang digunakan pembangkit di Tarakan kan dialirkan dari pipa bawah laut
sumur gas di Pulau Bunyu, sehingga sangat tergantung pada tingkat
tekanan dan volumenya.
Untuk pembangkit berbahan batubara, sebenarnya tingkat kalori dari
batubara Tarakan dan sekitarnya adalah sedang dan rendah antara 4.000
hingga 5.000 kalori (kal) dengan cadangan sekitar 30 tahun dengan luas
30 hektar yang bisa di eksplorasi, sehingga bisa digunakan untuk
pembangkit. Namun, dulu waktu saya menjadi Walikota dan Tarakan adalah
kota kecil maka kita berkomitmen bahwa batubara disini tidak boleh di
eksploitasi, tapi kita bisa memasoknya dari luar Tarakan. Tapi ini
terlalu banyak penolakan dari masyarakat, akhirnya kebijakan itu tidak
saya buat.
Dulu saya pernah mengunjungi Jepang dan Walikota Kyousou dan melihat
citra satelit dalam bentuk bola dunia di malam hari, disitu terlihat
warna kuning emas, hitam, dan campur hijau dan lainnya. Itu menandakan
bahwa sejumlah wilayah terang benderang tapi ada daerah lainnya yang
gelap gulita. Negara jepang, China dan lainnya terlihat terang, saat
kita beralih ke Indonesia, hanya Jakarta dan Jawa yang terang, untuk
daerah lainnya redup. Apalagi Kalimantan hampir tidak terlihat.
Menurut Bapak, apakah solar cell cukup efektif digunakan karena
energi fosil semakin hari cadangan semakin menipis, dan energi baru
terbarukan sepertinya menjadi alternatif yang baik?
Untuk memanfaatkan pembangkit solar cell memang sangat baik, namun ada
kekurangan juga seperti investasi yang tinggi dengan tingkat
pemeliharaan perawatan (maintenance) yang harus ekstra keras. Ini
dianggap tidak efektif untuk menyelesaikan persoalan krisis listrik
dalam jangka pendek, namun jangka panjang memang perlu dipikirkan.
Potensi-potensi energi lainnya sebenarnya bisa kita gali, sesuai dengan
karaktersistik daerah itu sendiri. Karena kita juga tidak bisa hanya
sekedar teori dan saya ingatkan bahwa siapapun yang akan menjadi
Gubernur kelak. Maka harus mampu mengatasi krisis energi di Kaltara dan
mengelolanya dengan baik, karena ini tergantung dari pemerintahannya
yang menjadi leader dan lokomotif masyarakat Kaltara.
Karena dengan konsep yang matang, maka wilayah perbatasan dan perkotaan
akan terang benderang dan serta terjadi byar pet. Dan dengan demikian
maka masyarakat bisa menikmati ekonomi pembangunan dengan cepat, karena
listrik merupakan urat nadi pembangunan modern sehingga sekolah,
industri dan rumah tangga tumbuh berkembang dengan ketersediaan tenaga
listrik.
Bapak Yusuf, saya tertarik dengan konsep bapak soal wilayah
Kaltara yang memiliki cadangan minyak dan gas yang belum di kelola,
kalau tidak salah lebih banyak di daerah Ambalat?
Jadi begini, di negeri kita ini otonomi daerah belum penuh dilaksanakan
dan masih tarik ulur oleh kebijakan lainnya dalam peran-peran penting,
dan memang harus dilakukan loby khusus secara optimal serta meyakinkan
untuk bisa memahami kondisi real di Provinsi Kalimantan Utara. Waktu
itu, saya sempat bersama tim sempat paparan untuk meyakinkan pembentukan
Provinsi Kaltara, mulai dari di Balegnas, Menkopulhukam dan
lembaga-lembaga lainnya.
Dan disitu saya menyebutkan bahwa terdeteksi 9 titik kawasan di wilayah
Ambalat dengan potensi gas cadangan hingga mencapai triliun kaki kubik
gas. Dan hingga kini juga belum terekspoitasi dan sekarang baru di
eksploitasi untuk sumur-sumur darat (onshore) Tarakan dan itupun
sumur-sumur tua, sementara untuk sumur di Bulungan baru di lakukan di
Bunyu dan sekitarnya.
Dan saya berpikir begini apakah bisa data-data cadangan migas di Kaltara
kita umumkan di sejumlah negara seperti Korea, Australian dan negara
lainnya yang potensial untuk investasi dan bisa melakukan eksplorasi dan
memproduksi sumur-sumur onshore dan offshore wilayah Ambalat dan
sekitarnya. Namun harus diwaspadai adalah jangan sampai mereka baru
eksplorasi tapi sudah dibebankan pungutan-pungutan, disuruh membayar ini
dan itu, padahal hasil belum terlihat. Kalau begitu orang pasti lari
dan tidak akan mau berinvestasi di Kaltara.
Lalu, apa konsep bapak untuk mendatangkan investor disektor migas?
Jadi begini, ada beberapa hal yang harus di ingat untuk membawa investor asing maupun lokal ke Kaltara sebagai berikut:
1. Berikan jamian keamanan kepada mereka, bahwa aset dan investasinya di
Kaltara ini tidak akan diganggu, jaminan itu harus diberikan oleh
Pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi, Kota dan
Kabupaten. Ibaratnya begini,
"Anda menanamkan investasi disini, jika ada masalah maka kau dibelakang dan saya yang maju untuk melindungimu," tuturnya.
2. Melakukan feasible study dengan menghitung investor return, kapan
dana mereka bisa kembali dan menguntungkan, kalau tidak untung (profit)
maka tidak akan ada investor yang bersedia. Ini termasuk memberikan
kebijakan insentif bisa berupa pajak dan tax, artinya tidak ada pungutan
apapun sampai eksplorasi tersebut menghasilkan atau berproduksi,
setelah berproduksi baru diterapkan cost recovery migas, jadi intinya
bikin lah mereka tercengang, pelayanan harus kita utamakan.
3. Berikan kemudahan sistem perizinan, baik perizinan dari pusat hingga daerah.
4. Membangun kepercayaan kepada investor dan pemerintah.
Luar biasa pemikiran revolusioner Bapak, lalu bagaimana melihat
kebijakan-kebijakan pusat soal pengaturan dan distribusi BBM subsidi
dan non subsidi didaerah. Karena daerah-daerah apalagi di Kaltara ini,
sering terjadi kekurangan bahan bakar?
Sekarang saya tanya anda, kilang yang kita miliki untuk memproduksi
premium (Ron 88) dan jenis pertamax (Ron 92) hanya bisa memproduksi
sekitar 850.000 barel perhari. Sementara kebutuhan untuk rakyat
Indonesia sekitar 1.500 juta barel perhari. Tentu ada kekurangan kan,
nah selagi ini belum terjawab dan terselesaikan, maka kebijakan atau
rumus apapun itu hanya akan jalan ditempat.
Lalu apakah Bapak menginginkan kilang BBM juga dibangun di Kaltara?
Bagi saya jika masyarakat mempercayakan menjadi Gubernur Kaltara,
pembangunan kilang di sini hanya menjadi pilihan kedua (second opinion),
pertama yang bisa dilakukan dan menjadi skala prioritas adalah
membangun Infastruktur perbatasan yang menjadi keranda NKRI, ini sudah
mendesak dan harus segera mengedepankan sosial kemasyarakatan. Dan
setiap program-program kerja harus berjalan dengan baik dan bermuara
pada kesejahteraan agar masyarakat kita tidak memilih Malaysia ketimbang
Indonesia.
Program 5 tahunnya dalam RPJMP antara lain membangun poros jalan Tanjung
Selor ke Kabupaten Tana Tidung (KTT) dan Malinau. Karena kondisinya
sangat parah, dan harus dilalui hingga durasi 6 jam, padahal jika hanya
100-200 kilometer bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Padahal beberapa
waktu lalu, rata-rata APBD dari 5 kabupaten dan kota ini pada kisaran Rp
1,5 Triliun. Namun belum ada kerjasama dan dukungan dari Provinsi serta
Pemerintah Pusat.
Coba anda bayangkan, ada sekelomppok yang masyarakat tinggal di KM 10
disana dan kalau melahirkan dan mau diantar kerumah sakit, apakah tidak
melahirkan di jalanan. Untuk itu infrastruktruk harus diperbaharui
dulu.
Inilah perbedaan Provinsi Kaltara dan Kaltim, walaupun luasnya hampir
sama namun jumlah penduduk Kaltara sangat sedikit, dan keseimbangan
demografi serta geografis yang tidak mendukung. Sehingga kita akan
lakukan setiap kebijakan apapun harus bermuara pada kesejahteraan
rakyat. Baik itu kebijakan Pembangunan, kebijakan perikanan, kebijakan
kelautan, perumahan hingga kebijakan kesehatan harus pada kesejahteraan
masyarakat.
Satu lagi, pemerintah harus berpikir bagaimana caranya supaya ekonomi
Kaltara bangkit, dari sektor ketersediaan pangan dan energi, maka akan
mampu menopang perekonomian modern dan menjadi multiefek yang kompleks.
Keseriusan membangun program persawahan di Sebuku, Bulungan atau
disepanjang sungai yang harus dibikin waduk dan tanggul untuk ketahanan
pangan jadi untuk swasembada pangan itu penting.
Dan jangan lupa bagaiman caranya supaya persawahan harus di input dengan
teknologi yang baik, yang tadinya hanya panen 2 kalid alam setahun maka
harus bisa panen 3 atau 4 kali dalam setahun. Dan untuk penanganannya
bisa dengan Bulog, Mini Bulog, Koperasi hingga jenis lainnya. Dan harus
bermuara pada kesejahteraan petani, nelayan dan lainnya. Artinya begini,
masyarakat itu jangan sampai mereka perutnya tidak kosong dan dompetnya
tidak kosong. Sehingga konflik-konflik bisa dikurangi serta anak-anak
mereka bisa bersekolah.
Oke Bapak Yusuf, yang terakhir pak. Bagaimana menurut bapak untuk konsep jaringan gas rumah tangga?
Baiklah, jadi kita ini kan dulu waktu saya menjadi Walikota Tarakan,
sudah ada planning soal City Gas, dan kita fasilitasi. Bahkan sempat
menjadi pilot projeck yang di Kampung 1 dan Sebengkok. Namun, coba
llihat sekarang putus ditengah jalan dan tidak di lanjutkan oleh kepala
daerahnya dan sudah putus bertahun-tahun, dan kalau kepala daerahnya
diam-diam juga, orang pusat juga menganggap hanya baik saja. Padahal
maksud saya dulu itu, supaya dua kelurahan itu contoh saja dan
dilanjutkan ke daerah-daerah lainnya lagi di Tarakan, Bulungan, Malinau,
KTT dan Nunukan jadi bisa terintegrade dengan baik, sehingga tidak
perlu lagi beli tabung gas mahal-mahal.
Sekarang beginilah, coba anda hitung antara gas rumah tangga dengan
tabung gas, yang mana lebih murah? Apalagi sekarang beredar
tabung-tabung gas dari Malaysia disini dan harganya juga lebih mahal.
Oke baiklah, saya kira banyak yang sudah kita bahas. Paling tidak
konsep-konsep ini bisa ita terapkan jika pemimpinnya mengherti dan paham
bagaiman cara pemanfaatan energi untuk masa depan rakyat dan
berorientas pada kesejahteraan masyarakat khususnya di Kaltara.
(sumber berita: newstara.com)
0 comments:
Posting Komentar