Kapolda (DIJ) Menerima Banyak Laporan Hilang setelah dr.Rica ditemukan



Setelah dr Rica Tri Handayani ditemukan polisi, Polda Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) menerima banyak laporan orang hilang. Dalam sehari kemarin (12/1), polda menerima laporan 15 orang hilang.
Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti mengatakan, laporan masuk sejak Senin malam hingga Selasa (12/1). ”Ada lima laporan. Senin malam satu laporan dan Selasa siang empat laporan,” katanya kemarin.
Dari lima berkas, total 15 orang dilaporkan hilang. Dalam berkas pertama, lima orang dalam satu keluarga yaitu Gacang Hangga Prasetya Hutama (31), Feti Wahyu Utami (32), Lukendra Andakara Madyasta Hutama (5), Arsya Khaela Cintanatia Hutama (4), dan Muhammad Hanafi Nagra Hutama (1).
Kelimanya adalah warga Gemblakan Atas I/345, RT 10/RW 04, Danurejan Kota Jogja. Mereka berpamitan pergi ke pedalaman Kalimantan dengan pesawat melalui Semarang pada 18 Desember 2015. Setelah itu, mereka hilang kontak dengan keluarga.

Ada pula laporan atas nama Faza Anangga Novansyah (27), warga Cibukan, Sumberadi, Mlati, Sleman. Faza hilang pada 11 Desember 2015. Dia sebelumnya sempat berpamitan ke Samarinda untuk mencari pekerjaan.

Anny menjelaskan, polda saat ini berupaya memberikan pelayanan prima. Pihaknya mencari para korban hilang. ”Kami mengimbau agar warga tidak mudah terbujuk oleh orang tak dikenal. Belum tentu tawarannya yang diberikan itu benar,” terangnya.

KETERLIBATAN ORGANISASI

Drama hilangnya dr Rica sampai ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, menguak keterlibatan perkumpulan bernama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Perkumpulan itu juga disebut dengan kelompok Negara Karunia Semesta Alam (NKSA). Ahmad Musadeq, sosok kontroversial yang pernah dibui karena mengaku nabi, di balik Gafatar.

Keterkaitan Ahmad Musadeq dengan Gafatar terungkap dalam riset lapangan peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag Abdul Jamil Wahab. Penelusuran dimulai dari kasus DPD Gafatar di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) digerebek warga dan polisi pada 7 Januari 2015.
Selepas bebas dari penjara karena kasus penistaan agama, Musadeq pergi ke Amerika Serikat. Dia pulang ke Tanah Air lalu membentuk Gafatar.

’’Riset baru selesai saya seminarkan Desember lalu,’’ kata Jamil. Salah satu butir kesimpulan penelitian adalah keterkaitan Gafatar dengan aliran Millata Abraham atau Qiyadah Islamiyah yang dibentuk Ahmad Musadeq.

Kesimpulan didapat dari sejumlah transkrip dan dokumen pertemuan akbar Gafatar di NAD. Di antaranya, Ahmad Musadeq menjadi pembicara utama dalam rapat pengurus lengkap bulanan di Banda Aceh pada 27 November 2014.

’’Di dalam pertemuan yang diikuti 37 pengurus, Musadeq memberikan wejangan Rahul Qudus,’’ ungkapnya. Musadeq pernah datang pada acara Gafatar akbar lain pada 11 Desember 2014 di Palangkaraya yang diikuti 685 orang pengurus.

Jamil mengatakan, Gafatar menjadi wadah baru aliran Millata Abraham yang diterima masyarakat. Dalam kegiatan, banyak masyarakat yang mengira Gafatar adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi sosial. Bahkan, penelitian Kemenag pada 2011 menyimpulkan Gafatar adalah LSM atau ormas.
’’Penyampaian paham di Gafatar sangat lembut. Diterima masyarakat bahkan pejabat publik seperti kepala daerah,’’ jelas dia. Dalam operasional, ada tiga kegiatan utama terkait Gafatar. Yakni, sosialisasi, penggalian dana, dan rekrutmen simpatisan.

Untuk keanggotaan, ada tiga kelompok. Kelompok di lingkaran paling luar adalah simpatisan. Mereka ikut ramai-ramai dalam kegiatan Gafatar seperti bakti sosial, donor darah, bersih-bersih pantai, dan sejenisnya.
Kelompok lebih dalam lagi adalah anggota. Kelompok ini dijaring dari simpatisan yang sering aktif. Lalu, kelompok yang paling dalam adalah pengurus. Informasi yang berkembang, pengikut Gafatar mencapai 500 ribu orang.

’’Jumlah itu campur antara simpatisan, anggota, dan pengurus,’’ jelas dia.
Strategi Gafatar supaya tidak mendapatkan penolakan adalah mengatur komunikasi. Mereka sama sekali tidak membicarakan urusan akidah atau keyakinan Millah Abraham di jajaran simpatisan. Simpatisan hanya dijejali informasi bahwa Gafatar membangun bangsa.

Urusan akidah atau keyakinan baru disampaikan kepada jajaran pengurus dengan jumlah tidak banyak. Dia mengatakan, tidak sembarang anggota bakal dinaikkan pangkat menjadi pengurus. Perlu orang-orang yang bisa menjaga komitmen dan bersedia mengikuti persaksian.

’’Di dalam persaksian ini titik penyimpangan,’’ katanya. Salah satu poin dalam adalah calon pengurus harus mengakui kerasulan sang mesias. Kemudian, siap berkorban demi perjuangan sang mesias. Siapakah mesias yang dimaksud? Dia adalah Ahmad Musadeq.

Menurut Jamil ajaran inti di Millah Abraham adalah tidak lagi mengakui kebenaran agama-agama yang dibawa nabi keturunan Nabi Ibrahim. Poin yang selalu digembor-gemborkan adalah agama-agama yang besar antara lain Islam, Kristen, dan Yahudi sering ribut. Mereka kembali ke Nabi Ibrahim sebagai bapaknya para nabi.

Di dalam praktik ketahuidan sehari-hari, pesan utama Gafatar adalah meneguhkan ketauhidan umat atau anggotanya. Jadi, kegiatan ritual keagamaan seperti salat lima waktu dan zakat tidak wajib. ’’Mereka lebih mewajibkan salat malam atau tahajud,’’ jelas dia.

Jamil mengidentifikasi kelompok orang yang rentan direkrut Gafatar. Mereka adalah kelompok pemuda aktivis. Kelompok yang cenderung kritis dan membutuhkan wadah mewujudkan kondisi ideal versi dia.
Kelompok berikutnya orang-orang yang awalnya tidak tertarik, tetapi dikompori sejumlah anggota Gafatar secara terus-menerus. ’’Mereka yang awalnya resisten, lama-lama penasaran ingin tahu,’’ jelas dia. Dari sisi profesi kalangan yang berhasil direkrut Gafatar mulai dari akademis, mahasiswa, PNS, hingga masyarakat umum.

Jamil mengatakan, ada pertemuan di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang membahas khusus Gafatar. Di dalam pertemuan lintas lembaga, terungkap bahwa Gafatar membuat semacam kongres nasional di Kalimantan Tengah atau Kalimantan Barat.

Menurut Jamil, dalam setiap pertemuan, Ahmad Musadeq mengatakan Gafatar tahun 2015–2016 akan memasuki masa hijrah atau berpindah. Keberadaan mereka sudah mulai mendapatkan respons negatif. ’’Dalam suatu dokumen, titik hijrah mereka ada di Kalimantan. Mereka membutuhkan dana sampai Rp 4 miliar untuk menampung seluruh anggota di sana,’’ katanya.
Mengapa Kalimantan? Menurut temuan Jamil, Ahmad Musadeq mengatakan bahwa Pulau Jawa akan tenggelam lebih cepat ketimbang Kalimantan.

’’Paparannya masuk akal karena dikaitkan dengan pemanasan global,’’ jelas dia.
Menurut Jamil untuk kegiatannya kali ini aparat penegak hukum bakal kesulitan menyeret Ahmad Musadeq. Sebab, dia tidak lagi menyiarkan ajarannya kepada masyarakat umum. Syiar ajarannya hanya eksklusif ke pengurusnya. Dengan sistem ini, Ahmad Musadeq sulit dijerat pidana penistaan agama.

WAJIB JAGA KOMUNIKASI
Munculnya beragam organisasi turut meresahkan kalangan masyarakat. Kasus hilangnya dr Rica Tri Handayani bersama anaknya yang bergabung dengan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) menjadi pembelajaran.
Metode pendekatan organisasi justru dari keluarga. Ini terbukti dari hilangnya dr Rica setelah bertemu sepupunya. Faktor keluarga menjadi salah satu faktor mudahnya doktrin yang ditanamkan kepada korbannya.
”Faktanya dalam kasus ini justru dari keluarga sendiri. Ini lebih memudahkan untuk menanamkan doktrin. Salah satu kasus lainnya seperti anak home schooling juga dari orang terdekatnya,” kata Psikolog Ega Asnatasia Maharani.
Share on Google Plus

About Harly Sudib

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. " Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap "menyertakan link dofollow Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com