Analisa Peluang Saat Rupiah Melemah Terhadap Dollar- Rupiah melemah biasanya memang menjadi ancaman, bagi negara yang
ketergantungan impornya tinggi. Mau bahan baku, selalu impor. Dan
memang sudah menjadi hukum ekonomi, carinya ya emang harga termurah. Mau
dari negara manapun.
Begitu juga untuk pembayaran hutang ke
luar negeri. Jadi nanya kan, kenapa mesti hutang ke luar negeri kalau
bisa membiayai sendiri? Kenapa gak pembiayaan dalam negeri? Tetapi ya
gitu deh, perbankan luar negeri kan iming-iming pinjamannya menggiurkan.
Gampang diakses, gampang cair, gak ribet persyaratan, dan seterusnya.
Tetapi ditengah keterpurukan rupiah ini, ada hikmahnya juga kali ya.
Pertama pekerja Indonesia di luar negeri, mesti gajinya jadi berlipat
nih dengan lemahnya rupiah, hehee. Kan digaji pake dollar, kiriman ke
Indonesia langsung naik juga deh, sekian persen.
Hikmah kedua,
menghadapi pasar bebas ASEAN, barang jadi gak bisa sembarangan masuk
kalau rupiah melemah gini. Harga produk impor jadi mahal, sehingga
produk lokal bisa lebih kompetitif.
Yang ketiga, barang ekspor
jadi kompetitif. Terutama bagi ekspor komoditas, seperti coklat, kopi,
teh, kelapa, kayu manis, kayu-kayuan. Produk komoditas seperti ini kan
tidak pakai bahan baku dari luar negeri, hehee. Alias produk pertanian
dan perkebunan. Seperti tadi saya ketemu supir taksi
yang punya kebun di kampung. Kebunnya seluas setengah ha (5000 m2),
ditanami kopi dan kakao, hasilnya perbulan bisa dapat Rp 10 juta. Dia
bisa dapet segini, karena rupiah lagi melemah, dihargai tinggi oleh bule
pemburu kopi di daerahnya. Jadi jika petani atau koperasi petani sudah
bisa bernegosiasi berjualan ke luar negeri, kondisi seperti ini
menguntungkan bagi mereka.
Yang keempat, peluang untuk usaha
subsitusi barang impor selama ini. Ada tuh teman yang kerjasama dengan
peneliti dari UGM untuk membuat keju mozarela. Keju ini biasanya dapat
dari impor, dan karena rupiah melemah, harga barang impornya jadi mahal.
Makanya dia berinisiatif buat pabrik kecil-kecilan bikin mozarella ini.
Begitu juga petani bunga. Yang selama ini banyak bunga impor digunakan,
dengan harga yang semakin mahal seperti ini, suplainya bisa
disubstitusi oleh bunga lokal, yang tidak kalah indahnya. Produk-produk
lainnya seharusnya juga bisa, karena sebenarnya universitas punya banyak
sekali ahli mengenai produk tertentu. Tetapi belum bisa produksi massal
karena terkendala biaya. Kan bisa saja sekarang pelaku usaha buruan
kerjasama dengan pihak universitas.
Yang paling penting dari
melemahnya rupiah ini adalah jangan sampai rupiah anjlok blek. Kalau
sudah anjlok blek, perusahaan sehat manapun yang kadung punya pinjaman
luar negri bisa kolaps. Tetapi kalau pelan-pelan gini, stabil (turunnya,
hehee), mungkin ini saatnya bagi Indonesia untuk memperkuat
produktivitas, membenahi seluruh sistem perekonomiannya, dari hulu ke
hilir. Jika sudah baik pondasi ekonominya, rupiah menguat ya makin
bagus, atau melemah yah gak gitu masalah.

0 comments:
Posting Komentar